Selasa, 07 Mei 2013

Teori Kelangkaan dan Rusaknya Pemahaman Akan Kebutuhan

Diskusi dengan orang hebat itu selalu seru. Tak kalah serunya pula, diskusi dengan calon orang hebat yang mau-maunya berdiskusi dengan orang kecil seperti penulis ini. Apalagi, kalau hasil diskusi seperti itu dapat ditorehkan ke dalam tulisan dan membentangkan bendera inspirasi kepada segenap pembaca. Alangkah, nikmatnya menjadi model trafo. Membahasakan arus bolak-balik menjadi arus searah yang mudah dicerna dan disebarluaskan.

Diskusi kali ini bukan soal Rumah Quran (ups, sebut merk), walau calon orang hebat yang dimaksud banyak mengutarakan segumpal usul dan saran yang sangat visioner dalam ranah penghafalan Quran. Diskusi yang tercatat di sini membahas tentang pola pikir manusia, yakni; bukan-Islam dan Islam. Kasus yang dikupas pun simpel, ekonomi masyarakat. Beliau paham tentang perkuliahan ekonomi Islam dari kampus LIPIA yang masih digelutinya (pemikiran Islam). Sedangkan, penulis coba mengutarakan sekelumit perkuliahan ekonomi sebagaimana pelajaran yang disebarluaskan di pendidikan normal (pemikiran bukan Islam).

Tatkala saya bilang; “Yah, beginilah ekonomi. Teori kelangkaan. Menganggap bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, sementara sumber daya pemuas kebutuhan adalah terbatas.”

Maka, dengan pemahamannya beliau bilang; “Secara Islam tidak seperti itu. Islam mengajarkan bahwa setiap individu sudah digariskan rezeki dari Sang Pencipta. Tanah, air, udara, hutan, semua alam yang ada di seluruh dunia dihibahkan cuma-cuma oleh Allah untuk dikelola manusia, bukan satu tapi seluruh manusia. Namun, karena kedzaliman manusia-lah, semua itu justru dirusak.”

Penulis langsung berusaha memetakan hikmah melalui makna dirusak tadi. Apa itu ‘rusak’? Yang jelas kata rusak telah dijelaskan secara kasat mata di ayat 41 surat Ar Rum: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Namun, penulis lebih memaknai kerusakan tadi lebih jauh lagi. Yakni kerusakan kasat mata, yang diakibatkan oleh kerusakan pemahaman. Ya, pemahaman tentang kebutuhan secara mendasar. Dari olah diskusi sejenak itulah, penulis akhirnya paham bahwa teori kelangkaan itu ‘na’udzubillah’ (semoga Allah melindungi kita darinya...), menjadi titik tolak kerusakan di muka bumi ini. 

Coba ditelaah lagi. Manusia dianggap memiliki kebutuhan tidak terbatas sementara sumber daya pemuas kebutuhan terbatas. Padahal, Allah telah limpahkan berbagai macam nikmat di seantero dunia. Nikmat yang layak untuk digali dengan adil dan terkendali. Dan karena anggapan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, maka manusia terus menggali-menggali, tanpa terkendali. Menganggap bahwa ‘ini tanah saya’, ‘ini harta saya’, apalagi pemikiran bahwa pemuas kebutuhan itu terbatas! Praktis, saling rebut terjadi, bahkan melupakan hak orang miskin. Tsumma na’udzubillah!

Bolehlah kita anggap bahwa kaya-miskin adalah sebuah kewajaran. Bahkan di zaman Nabi pun ada. Namun, jika kewajaran itu terus direnggangkan sejauh-jauhnya, maka itulah tindakan dzalim. Alam dan seluruh isinya seharusnya digali untuk kepentingan bersama. Maka, dengan pemikiran bahwa ‘Allah memberi rizki kepada seluruh manusia itu CUKUP’, dibutuhkan kesadaran bagi semua orang kaya untuk kontrol diri dan semua orang miskin untuk ikhlas bersabar karena Ilahi.

Kesadaran berjamaah ini menjadi pekerjaan rumah bagi diri, keluarga, masyarakat, bahkan negara. Karena sifat dasar manusia yang tak mau kalah dan selalu ingin ini sudah menjadi problem sistemik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar