Diskusi dengan orang hebat itu selalu seru. Tak
kalah serunya pula, diskusi dengan calon orang hebat yang mau-maunya berdiskusi
dengan orang kecil seperti penulis ini. Apalagi, kalau hasil diskusi seperti
itu dapat ditorehkan ke dalam tulisan dan membentangkan bendera inspirasi
kepada segenap pembaca. Alangkah, nikmatnya menjadi model trafo. Membahasakan
arus bolak-balik menjadi arus searah yang mudah dicerna dan disebarluaskan.
Diskusi kali ini bukan soal Rumah Quran
(ups, sebut merk), walau calon orang hebat yang dimaksud banyak mengutarakan
segumpal usul dan saran yang sangat visioner dalam ranah penghafalan Quran. Diskusi
yang tercatat di sini membahas tentang pola pikir manusia, yakni; bukan-Islam
dan Islam. Kasus yang dikupas pun simpel, ekonomi masyarakat. Beliau paham
tentang perkuliahan ekonomi Islam dari kampus LIPIA yang masih digelutinya
(pemikiran Islam). Sedangkan, penulis coba mengutarakan sekelumit perkuliahan
ekonomi sebagaimana pelajaran yang disebarluaskan di pendidikan normal
(pemikiran bukan Islam).
Tatkala saya bilang; “Yah, beginilah
ekonomi. Teori kelangkaan. Menganggap bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas,
sementara sumber daya pemuas kebutuhan adalah terbatas.”
Maka, dengan pemahamannya beliau bilang; “Secara
Islam tidak seperti itu. Islam mengajarkan bahwa setiap individu sudah
digariskan rezeki dari Sang Pencipta. Tanah, air, udara, hutan, semua alam yang
ada di seluruh dunia dihibahkan cuma-cuma oleh Allah untuk dikelola manusia,
bukan satu tapi seluruh manusia. Namun, karena kedzaliman manusia-lah, semua
itu justru dirusak.”
Penulis langsung berusaha memetakan hikmah melalui
makna dirusak tadi. Apa itu ‘rusak’? Yang jelas kata rusak telah dijelaskan
secara kasat mata di ayat 41 surat Ar Rum: Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Namun, penulis lebih memaknai kerusakan tadi
lebih jauh lagi. Yakni kerusakan kasat mata, yang diakibatkan oleh kerusakan
pemahaman. Ya, pemahaman tentang kebutuhan secara mendasar. Dari olah diskusi sejenak
itulah, penulis akhirnya paham bahwa teori kelangkaan itu ‘na’udzubillah’
(semoga Allah melindungi kita darinya...), menjadi titik tolak kerusakan di
muka bumi ini.
Coba ditelaah lagi. Manusia dianggap
memiliki kebutuhan tidak terbatas sementara sumber daya pemuas kebutuhan
terbatas. Padahal, Allah telah limpahkan berbagai macam nikmat di seantero
dunia. Nikmat yang layak untuk digali dengan adil dan terkendali. Dan karena anggapan
bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, maka manusia terus menggali-menggali, tanpa
terkendali. Menganggap bahwa ‘ini tanah saya’, ‘ini harta saya’, apalagi pemikiran
bahwa pemuas kebutuhan itu terbatas! Praktis, saling rebut terjadi, bahkan melupakan
hak orang miskin. Tsumma na’udzubillah!
Bolehlah kita anggap bahwa kaya-miskin
adalah sebuah kewajaran. Bahkan di zaman Nabi pun ada. Namun, jika kewajaran
itu terus direnggangkan sejauh-jauhnya, maka itulah tindakan dzalim. Alam dan
seluruh isinya seharusnya digali untuk kepentingan bersama. Maka, dengan pemikiran
bahwa ‘Allah memberi rizki kepada seluruh manusia itu CUKUP’, dibutuhkan
kesadaran bagi semua orang kaya untuk kontrol diri dan semua orang miskin untuk
ikhlas bersabar karena Ilahi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar