Kalau saja belum tahu kajian Riyadhus Shalihin tentang keharusan untuk
fokus di khutbah Jumat dan dilarang mencatatnya, pastilah penulis sudah catat
setiap khutbah bagus untuk dishare di blog ini. Alhasil, semampu daya pikir ini
saja hikmah yang terkandung dalam khutbah dapat diberanjang.
Khutbah kali ini (10/5/2013) disampaikan oleh Ustad Jumharuddin, di
Masjid An Nur PJMI. Beliau memancang dalil Quran yang sangat menampar; Dan datanglah sakaratul maut dengan
sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS Qof: 19).
Mati, sebuah kata yang selalu ‘nyambung’ jika dibicarakan oleh orang dari
berbagai disiplin ilmu. Jika kebiasaan kita adalah menggenapkan usia dihitung
dari 0 kita lahir terus bertambah sampai akhirnya mati, maka akan lebih
mengingat mati jika kita hitung mundur dari angka 40, 30, 20, 10, 5, hingga
akhirnya mati. Lalu bagaimana kita mau menghitung? Dari angka berapa? Itulah
dia; mati punya satu rumus bahwa dia tidak punya rumus.
Hasan Bashri berkata bahwa manusia itu sejatinya adalah sekumpulan
hari-hari. Jika hari-hari terus berlalu, maka akan tanggal tiap bagian
tubuhnya. Rambut tanggal menjadi uban, gigi rontok, kulit berganti, terus
menerus hingga akhirnya totalitas dirinya tanggal dari kehidupan dunia ini.
Dunia ini pun ibarat lomba rally, yaitu lomba yang diikuti oleh berbagai
kendaraan; ada mobil balap, motor balap, metro mini, bajaj, becak, sepeda.
Mereka semua berlomba, dengan satu hal pasti; semua kendaraan itu akan sampai
ke garis finish. Apakah lomba itu adil? Tentu tidak. Begitu pula dunia ini. Ada
yang lahir langsung kaya, ada pula yang miskin, tapi satu yang pasti; semua
akan mati.
Waktu adalah uang. Harusnya, kita memahami bahwa waktu itu lebih baik
daripada sekedar uang. Buktinya, jika kita punya uang 1 milyar, kemudian kita
divonis akan mati, kecuali dengan pengobatan seharga 1 milyar itu, pasti kita
akan mengorbankan uang daripada mati kita. Itu artinya waktu lebih baik
daripada uang. Nah, sekarang coba main logika; kita akan dianggap bodoh jika membuang-buang
uang 1 milyar. Namun, jika kita membuang-buang waktu, akankah kita pantas
menyematkan kata ‘bodoh’ pada diri kita? Sungguh, logika uang dan waktu, layak
kita pahami lebih dekat.
Coba main logika lagi; kalau tidak ada yang namanya mati, pasti semua
agenda akan kita anggap penting. Namun, jika ada ‘mati’, pasti kita baru bisa memilih
mana yang penting, mana pula yang lebih penting. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa prioritas itu muncul karena waktu yang kita miliki ini terbatas. Itulah
kenapa kita harus melakukan yang lebih penting daripada yang penting, bahkan daripada
yang tidak-tidak penting. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Rasulullah pun
berpesan untuk mengingat mati. Karena mengingat mati itu dapat menyadarkan kita
akan pentingnya prioritas.
Bayangkan ada seorang pemilik rumah mewah yang mau menyewakan rumahnya
dengan harga murah. Namun, dengan satu syarat saja: jika sewaktu-waktu pemilik
ingin rumahnya kembali, maka penyewa harus merelakan seisi rumah, kecuali baju
yang penyewa pakai.
Seorang penyewa pun bersedia. Setahun, dua tahun ia menyewa rumah. Ia
hiasi rumah itu hingga puluhan juta rupiah habis, hingga tiba tahun ketiga, jam
dua malam, pemilik ingin rumahnya kembali. Akhirnya, penyewa digelandang begitu
saja; semua hartanya pupus, ia hanya berpakaian ala kadarnya. Begitulah kehidupan
dunia yang dibatasi oleh ‘mati’. “Sedang kehidupan
akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal (Al A’laa 17)”. “Alangkah pantas
jika kita agendakan mati; dalam garis hidup kita”, ujar ustad Jumhar. Demikian
sedikit yang dapat dihimpun dari khutbah beliau. :(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar