Jumat, 10 Mei 2013

Rumus Mati itu Cuma Satu: Dia Tidak Punya Rumus

Kalau saja belum tahu kajian Riyadhus Shalihin tentang keharusan untuk fokus di khutbah Jumat dan dilarang mencatatnya, pastilah penulis sudah catat setiap khutbah bagus untuk dishare di blog ini. Alhasil, semampu daya pikir ini saja hikmah yang terkandung dalam khutbah dapat diberanjang.

Khutbah kali ini (10/5/2013) disampaikan oleh Ustad Jumharuddin, di Masjid An Nur PJMI. Beliau memancang dalil Quran yang sangat menampar; Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS Qof: 19).
 
Mati, sebuah kata yang selalu ‘nyambung’ jika dibicarakan oleh orang dari berbagai disiplin ilmu. Jika kebiasaan kita adalah menggenapkan usia dihitung dari 0 kita lahir terus bertambah sampai akhirnya mati, maka akan lebih mengingat mati jika kita hitung mundur dari angka 40, 30, 20, 10, 5, hingga akhirnya mati. Lalu bagaimana kita mau menghitung? Dari angka berapa? Itulah dia; mati punya satu rumus bahwa dia tidak punya rumus. 

Hasan Bashri berkata bahwa manusia itu sejatinya adalah sekumpulan hari-hari. Jika hari-hari terus berlalu, maka akan tanggal tiap bagian tubuhnya. Rambut tanggal menjadi uban, gigi rontok, kulit berganti, terus menerus hingga akhirnya totalitas dirinya tanggal dari kehidupan dunia ini.

Dunia ini pun ibarat lomba rally, yaitu lomba yang diikuti oleh berbagai kendaraan; ada mobil balap, motor balap, metro mini, bajaj, becak, sepeda. Mereka semua berlomba, dengan satu hal pasti; semua kendaraan itu akan sampai ke garis finish. Apakah lomba itu adil? Tentu tidak. Begitu pula dunia ini. Ada yang lahir langsung kaya, ada pula yang miskin, tapi satu yang pasti; semua akan mati. 

Waktu adalah uang. Harusnya, kita memahami bahwa waktu itu lebih baik daripada sekedar uang. Buktinya, jika kita punya uang 1 milyar, kemudian kita divonis akan mati, kecuali dengan pengobatan seharga 1 milyar itu, pasti kita akan mengorbankan uang daripada mati kita. Itu artinya waktu lebih baik daripada uang. Nah, sekarang coba main logika; kita akan dianggap bodoh jika membuang-buang uang 1 milyar. Namun, jika kita membuang-buang waktu, akankah kita pantas menyematkan kata ‘bodoh’ pada diri kita? Sungguh, logika uang dan waktu, layak kita pahami lebih dekat.

Coba main logika lagi; kalau tidak ada yang namanya mati, pasti semua agenda akan kita anggap penting. Namun, jika ada ‘mati’, pasti kita baru bisa memilih mana yang penting, mana pula yang lebih penting. Sehingga dapat disimpulkan bahwa prioritas itu muncul karena waktu yang kita miliki ini terbatas. Itulah kenapa kita harus melakukan yang lebih penting daripada yang penting, bahkan daripada yang tidak-tidak penting. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Rasulullah pun berpesan untuk mengingat mati. Karena mengingat mati itu dapat menyadarkan kita akan pentingnya prioritas. 

Bayangkan ada seorang pemilik rumah mewah yang mau menyewakan rumahnya dengan harga murah. Namun, dengan satu syarat saja: jika sewaktu-waktu pemilik ingin rumahnya kembali, maka penyewa harus merelakan seisi rumah, kecuali baju yang penyewa pakai. 

Seorang penyewa pun bersedia. Setahun, dua tahun ia menyewa rumah. Ia hiasi rumah itu hingga puluhan juta rupiah habis, hingga tiba tahun ketiga, jam dua malam, pemilik ingin rumahnya kembali. Akhirnya, penyewa digelandang begitu saja; semua hartanya pupus, ia hanya berpakaian ala kadarnya. Begitulah kehidupan dunia yang dibatasi oleh ‘mati’. “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal (Al A’laa 17)”. “Alangkah pantas jika kita agendakan mati; dalam garis hidup kita”, ujar ustad Jumhar. Demikian sedikit yang dapat dihimpun dari khutbah beliau. :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar