Rabu, 08 Mei 2013

Inbox dan Spam Tabligh Ustad Thamrin

Bertemakan ‘Menuju Masyarakat Madani Berakhlaq Qurani’, ustad Thamrin yang cukup populer di kalangan mahasiswa STAN menyampaikan materi tablighnya. Beliau membumbui tabligh yang disampaikan dengan humor-humor pengocok perut. Namun, hikmah terselip selalu ada, tinggal hadirin saja yang mau mengambilnya atau tidak. Satu konklusi penting yang penulis raup dari paparan beliau adalah perbedaan mendasar antara tabligh dan ta’alim. 

Tabligh disampaikan kepada hadirin konsumtif, yang mengonsumsi taujih, bermakna buat diri mereka sendiri. Sedangkan ta’alim merupakan tempatnya hadirin produktif, yang menimba ilmu, mengaplikasikan sekaligus mencerahkan diri dan orang lain. Dari situlah terlihat ironis, gelak tawa hadirin dan tekad tak terlihat para hadirin produktif. Hm… Semoga memang banyak yang produktif.

Selebihnya adalah ketersebaran hikmah yang lebih mudah dicerna dalam poin berikut:

  • Rasulullah membangun civil society bertajuk madani dalam kemasan Islam rahmatal lil ‘alamin
  • Ibrahim bin Adham berkata, “Bagaimana ber-Tuhan kalau sholat tapi juga sering bohong?”
  • Kebaikan itu punya 2 syarat penting; niatnya baik dan tujuan dilakukannya juga baik.
  • Ingat akhir doa habis wudhu; meminta agar kita termasuk orang yang beribadah dengan sholeh
  • Ubahlah kemunkaran dengan tangan. Jika tidak bisa dengan lisan. Jika tak bisa lagi, maka ubahlah dengan hati, dan itu adalah selemah-lemah iman (cuplikan HR Muslim - Arbain ke 34)
  • Disempurnakan pahalanya, dijauhkan dari neraka = faqod’ faaz (sukses)… ayat tidak dipaparkan
  • Allah banyak menyatakan Quran dengan ‘dzaalika’ (ini). Artinya Quran itu ‘DEKAT’ di hati.
  • Iman terhadap Quran diwujudkan dengan minimalnya ; baca Quran.
Adapun gumulan humor dirangkum dalam kolom ‘spam’ yang semoga bisa menerbitkan senyum :) 

  • Indonesia bukan negara Islam, bukan pula sekuler. Artinya Indonesia negara yang bukan-bukan.
  • Syarat istri mengizinkan suaminya untuk poligami ada 3: 1) ruhyah suami kuat, tahajjud 6 bulan ful, puasa sunah selama 6 bulan ful, dan menjadi relawan jihad ke Palestina 6 bulan ful …(ups)
  • Koruptor yang naik haji: Jangan sampai ketika lempar jumroh, batunya berbalik melempar dirinya. Di batu ada kertas tertulis; “Sesama setan dilarang saling lempar”
  • Kendaraan umat Islam itu alphard… Maksudnya Al-Fatihah (Ihdinashshiraathal mustaqiim)
  • Kemaren ngobrol besoknya wafat itu wajar. Yang tak wajar: kemaren wafat besoknya ngobrol
  • Setan tidak mau sujud kepada Adam berargumen bahwa api lebih mulia daripada tanah. Setan tidak tahu kalau harga tanah di Bintaro tiap tahun naik terus, bahkan lebih mahal daripada api.
  • Jika ada pengajian, setan lari. Jika manusia ikut lari, siapa dong, yang setan?
  • Jika diomongin orang, telinga panas; wajar. Jika dibacain Quran, dirinya panas; tidak wajar.
  • Kepada kaum wanita, pakelah kerudung SSI (standar syariat Islam). Kepada kaum pria, jangan pakai celana jin. Kita ini manusia. Adapun kamu wanita itu punya 9 perasaan dan 1 akal. Sebaliknya, kaum pria punya 9 akal dan 1 perasaan. Akibatnya, banyak pria ngakalin wanita.
  • Thowaf di mal itu CLBK (Cuma liat beli kagak).
  • Kementerian Agama korupsinya hebat. Karena mereka paham cara cepat dalam bertaubat.
  • Hidup menyakitkan tanpa kekasih, cukup sekian dan terima kasih. Tanpa kekasih hidup hampa, saya ucapkan trima kasih dan sampai jumpa.
Spam bukan berarti pasti buruk. Inbox bukan pula berarti pasti baik. Masing-masing ada hikmah tersendiri yang dapat dipetik. Apapun itu, perjalanan dakwah selalu bervisikan kehidupan madani.

Selasa, 07 Mei 2013

Teori Kelangkaan dan Rusaknya Pemahaman Akan Kebutuhan

Diskusi dengan orang hebat itu selalu seru. Tak kalah serunya pula, diskusi dengan calon orang hebat yang mau-maunya berdiskusi dengan orang kecil seperti penulis ini. Apalagi, kalau hasil diskusi seperti itu dapat ditorehkan ke dalam tulisan dan membentangkan bendera inspirasi kepada segenap pembaca. Alangkah, nikmatnya menjadi model trafo. Membahasakan arus bolak-balik menjadi arus searah yang mudah dicerna dan disebarluaskan.

Diskusi kali ini bukan soal Rumah Quran (ups, sebut merk), walau calon orang hebat yang dimaksud banyak mengutarakan segumpal usul dan saran yang sangat visioner dalam ranah penghafalan Quran. Diskusi yang tercatat di sini membahas tentang pola pikir manusia, yakni; bukan-Islam dan Islam. Kasus yang dikupas pun simpel, ekonomi masyarakat. Beliau paham tentang perkuliahan ekonomi Islam dari kampus LIPIA yang masih digelutinya (pemikiran Islam). Sedangkan, penulis coba mengutarakan sekelumit perkuliahan ekonomi sebagaimana pelajaran yang disebarluaskan di pendidikan normal (pemikiran bukan Islam).

Tatkala saya bilang; “Yah, beginilah ekonomi. Teori kelangkaan. Menganggap bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, sementara sumber daya pemuas kebutuhan adalah terbatas.”

Maka, dengan pemahamannya beliau bilang; “Secara Islam tidak seperti itu. Islam mengajarkan bahwa setiap individu sudah digariskan rezeki dari Sang Pencipta. Tanah, air, udara, hutan, semua alam yang ada di seluruh dunia dihibahkan cuma-cuma oleh Allah untuk dikelola manusia, bukan satu tapi seluruh manusia. Namun, karena kedzaliman manusia-lah, semua itu justru dirusak.”

Penulis langsung berusaha memetakan hikmah melalui makna dirusak tadi. Apa itu ‘rusak’? Yang jelas kata rusak telah dijelaskan secara kasat mata di ayat 41 surat Ar Rum: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Namun, penulis lebih memaknai kerusakan tadi lebih jauh lagi. Yakni kerusakan kasat mata, yang diakibatkan oleh kerusakan pemahaman. Ya, pemahaman tentang kebutuhan secara mendasar. Dari olah diskusi sejenak itulah, penulis akhirnya paham bahwa teori kelangkaan itu ‘na’udzubillah’ (semoga Allah melindungi kita darinya...), menjadi titik tolak kerusakan di muka bumi ini. 

Coba ditelaah lagi. Manusia dianggap memiliki kebutuhan tidak terbatas sementara sumber daya pemuas kebutuhan terbatas. Padahal, Allah telah limpahkan berbagai macam nikmat di seantero dunia. Nikmat yang layak untuk digali dengan adil dan terkendali. Dan karena anggapan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, maka manusia terus menggali-menggali, tanpa terkendali. Menganggap bahwa ‘ini tanah saya’, ‘ini harta saya’, apalagi pemikiran bahwa pemuas kebutuhan itu terbatas! Praktis, saling rebut terjadi, bahkan melupakan hak orang miskin. Tsumma na’udzubillah!

Bolehlah kita anggap bahwa kaya-miskin adalah sebuah kewajaran. Bahkan di zaman Nabi pun ada. Namun, jika kewajaran itu terus direnggangkan sejauh-jauhnya, maka itulah tindakan dzalim. Alam dan seluruh isinya seharusnya digali untuk kepentingan bersama. Maka, dengan pemikiran bahwa ‘Allah memberi rizki kepada seluruh manusia itu CUKUP’, dibutuhkan kesadaran bagi semua orang kaya untuk kontrol diri dan semua orang miskin untuk ikhlas bersabar karena Ilahi.

Kesadaran berjamaah ini menjadi pekerjaan rumah bagi diri, keluarga, masyarakat, bahkan negara. Karena sifat dasar manusia yang tak mau kalah dan selalu ingin ini sudah menjadi problem sistemik.

Senin, 06 Mei 2013

Review Shiroh dan Kerinduan Hadirnya Rijal (Kajian Ustad Tifatul Sembiring)

Entah karena memang materinya atau karena penulis terlambat hadir. Yang jelas penulis merasa sebagian besar penuturan sang tamu besar mabit momentum itu (Sabtu, 28 April 2013@Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia) adalah tentang shirah Nabi alias sejarah kenabian. Tamu besar yang suaranya langsung terendus dari luar masjid megah itu adalah Ustad Tifatul Sembiring, Menkominfo RI tahun berjalan. 

Pembahasan al-ustad dimulai dari kalimat pertama di buku catatan penulis; ‘dakwah itu tidak seperti jalan tol’. Beliau mencontohkannya dengan ‘tahun duka cita kenabian’, tahun dimana Rasul Saw kehilangan dua pendamping dakwah; sang paman Abu Thalib dan sang istri Siti Khadijah. Bahkan, Rasulullah dan sahabat sempat diboikot selama 3 tahun. Rasul menderita kelaparan hingga meminta Khadijah merebus kulit sepatunya. Sungguh, cobaan yang jauh dari kalangan da’i zaman sekarang.

Shirah, kata ustad Tifa, dibahas tiga malam gak akan habis-habis. Dalam review shirah yang mengambil scene di Gua Hira, Rasulullah dipeluk Jibril di gua Hira, membuat keringat beliau keluar segede butir-butir jagung (riwayat Ibnu Hisyam). Padahal, malam di Arab begitu dingin dan menusuk tulang. Dalam kesempatan itu pula, Jibril bertutur, “Ya Muhammad, ana Jibril wa antum Rasulullah!” Muhammad terbirit-birit, lantas meminta kepada istrinya, “Zamiluuni, zamiluuni; selimuti aku, selimuti aku!” Siti Khodijah langsung menyelimuti suami tercintanya. Beginilah model baiti jannati, rumahku surgaku. Tatkala galau, sedih, berduka, maka istri tercinta tempat kembali terbaik. Eeaaa…

Melompat ke scene pasca wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah, Rasulullah mengajak Zaid bin  Haritsah menuju Thaif, sebuah desa yang tanahnya subur dan penduduknya berpotensi menerima dakwah. Namun, penduduk Thaif keduluan dihasut Abu Lahab. Imbasnya, Rasul dilempari batu, bahkan darah beliau masih menetes walau sudah di luar Thaif. Ditawari Jibril agar penduduk Thaif dilempar gunung, Rasul menolak. Demikian kesabaran yang pantas menjadi inspirasi dai zaman sekarang. Usai peristiwa Thaif ini, Rasulullah curhat melalui berbait-bait doa yang berimbas pada turunnya surat Yusuf. Surat ini menjelaskan bahwa Yusuf lebih menderita daripada Muhammad.  

Perang Uhud tak kalah menyedihkan daripada peristiwa sebelumnya. Diprediksi bakal menang, situasi perang justru berbalik. Pihak muslim dihempas musibah. Ujungnya, Rasulullah dilempar pecahan besi, gigi beliau tanggal. Hamzah bin Abdul Muthalib wafat, jantungnya dimakan mentah-mentah oleh Hindun, dan telinganya dibuat mainan. Bukti kekejaman dan kezaliman model ini tak berhenti sampai di situ. Perang Salib menjadi bukti selanjutnya, dengan mengetengahkan kenyataan ayat 120 surat Al Baqarah, bahwa Yahudi dan Nashara tak pernah ridho sampai umat muslim masuk ke agama mereka. Inilah titik balik diperlukannya RIJAL; sosok yang jika hadir di satu tempat, maka tempat itu berubah. Mereka mendakwahi dan mengubah masyarakat menjadi lebih baik.

Sosok RIJAL meninggalkan tempat-tempat bersejarah di Indonesia, seperti Maluku (al-mulk – tempat banyak sekali kerajaan Islam), dan Irian (aurian – tidak pake baju). Walisongo menjadi RIJAL di bumi Indonesia, mereka disinyalir hidup berlainan zaman. Secara manhaj, mereka sukses menghapus sinkretisme dalam dunia Islam. Sayangnya, penulis Belanda menonjolkan hal itu kembali. Terbukti dari sudut pandang orang Jawa tentang ‘pak haji’, yakni sosok yang dianggap bisa menyembuhkan daripada tokoh alim ulama. Sungguh, pemahaman yang tabu dan diplintirkan penjajah. Di sisi lain, RIJAL adalah pejuang. Mereka berani mengorbankan nyawa demi keridhoan Allah. Rodhiitubillaahi robba, wabil Islaami diina, wabi Muhammadinnabiyyaw warasuulaa. 

Ustad Tifa menutup kajian dengan sajak; pak haji berpeci putih. Cukup segini dan terima kasih :D

Senin, 29 April 2013

Lafadz Allah dan Muhammad pada Penampakan UFO Maret 2013

Awalnya bukan sengaja, tapi kebetulan. Awalnya bukan niat, tapi penasaran. Awalnya dari sebuah web konspirasi yang menampilkan konspirasi kasuistis macam Lion Air jatuh di Denpasar, hingga yang sedang hot, tersangka bom Boston Dzokar Tsarnaev dalam kacamata konspirasi (indocropcircles.wordpress.com). Tiba-tiba setelah menjelajahi scroll bawah (bagian comment artikel), mata ini iseng melihat link dengan judul best UFO sightings (penampakan UFO terbaik tiap bulan). Mulai dari Januari hingga Desember 2012 lengkap, Januari hingga Maret 2013 pun lengkap ada. Akhirnya, setelah di-klik penampakan Maret 2013 (terbaru), terbukalah jendela youtube (alamat: http://www.youtube.com/watch?v=kXzvLoXtBSY).

Mata ini sejujurnya hanyalah iseng melintasi visual kasus demi kasus penampakan UFO dalam tautan web video itu. Mulai dari Melbourne (Australia), penampakan UFO di dekat corona matahari, video amatir rekaman orang naik ke atas tiang listrik, sampai tibalah kasus UFO di menit video ke 04.10 s.d. 05.20, yakni kasus UFO drops glowing spheres over Bawsey Woods, King Lynn, United Kingdom (tertanggal video 21 Maret 2013).

Berikut adalah hasil print-screen dari 2 scene di masing-masing menit dan detik ke sekian, ketika parade manuver UFO  membentuk lafadz Allah Swt dilanjutkan dengan lafadz Muhammad Saw.

Pada menit ke 4.59, manuver UFO membentuk lafadz Allah (Lihat perbandingannya dengan lafadzh Arab di gambar sebelah kiri-atas visualisasi video).


Pada menit ke 5.17, manuver UFO membentuk lafadz Muhammad. Lihat perbandingannya dengan lafadzh Arab (sebelah kiri atas visualisasi video). Bahkan, sisa lafadz Allah sedikit tampak di sebelah kanan lafadz Muhammad pada layar youtube. Wow...



Apapun itu, para peneliti gagal mendeteksi apa benda-benda itu sebenarnya, sehingga dinamai UFO (unidentified flying object – benda terbang tak dikenal – bukan sekedar dimaknai sempit berupa pesawat alien lho).

Entah memang mirip lafadznya atau hanya perasaan penulis saja, yang penting penulis berharap info ini bermanfaat. Allahu Akbar!  Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Romantika Musibah


Dalam sebuah adegan film The Mummy 2, Imhotep (tokoh musuh) dan O’Conell (tokoh utama) nyaris jatuh ke dalam neraka yang muncul dari rekahan bumi. Keduanya minta tolong kepada pasangan masing-masing. O’Conell berteriak minta tolong kepada Evelyn, istrinya. Imhotep pun minta tolong kepada Anck Su Namun, tokoh wanita pendamping musuh. Di saat yang sama, bebatuan dari atap jatuh bergantian pertanda bangunan mau rubuh. Praktis, kedua wanita harus berjuang ekstra jika mau menolong pasangan masing-masing. Adegan itu diakhiri dengan Evelyn yang heroik berlari melewati stalagtit-stalagtit yang jatuh dari atas, sementara Anck Su Namun justru berlari keluar, bertekad menyelamatkan dirinya sendiri. Ouch… Imhotep pun jatuh ke jurang neraka. Sementara O’Conell berhasil diselamatkan Evelyn dengan membantunya bangkit dari rekahan bumi.

Demikian sebuah gambaran dari musibah ekstrim yang diarungi dua sejoli sah nikah. Sutradara film ingin memberikan penekanan bahwa musibah harus selalu diarungi berdua. Tentunya untuk membuktikan bahwa cinta kedua pasangan adalah sejati.

Di sisi lain, musibah sering dilogikakan langit. Mereka yang melogikalangitkan musibah adalah yang percaya bahwa ada hikmah terserak di balik itu, sebagaimana ada udang di balik rempeyek. Salah satu imbas ‘sakit’ akibat musibah adalah tergugurnya dosa-dosa, sebagaimana hadits tentang tertusuk duri yang menggugurkan dosa. Lha, apalagi kalau sakitnya lebih daripada tertusuk duri?

Jadi, pemikiran ini lebih mampu mengekalkan cinta daripada sekedar romantika penyelamatan Evelyn terhadap O’Conell. Kenapa? Tentunya karena ada visi yang lebih visioner daripada sekedar hidup di dunia. Pada intinya, mereka yakin ada kekuatan langit yang sedang menggiring mereka untuk mengekalkan cinta tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Oh, romantisnya…

Penulis lebih suka menyebut tema perjuangan mengusung cinta ini dengan istilah romantika musibah. Ia adalah musibah yang menguji cinta, mengekalkan cinta, memvisikan cinta untuk selalu bersama karena tenggelam dalam cinta kepada Allah, Sang Penguasa langit dan bumi.

Dalam ranah romantika musibah, seorang pasangan tak hanya berpola pikir duniawi. Yakni menjauhi pasangannya, supaya tidak tertular. Romantika musibah dapat dicontohkan dengan keloyalan menemani kesusahan pasangannya walau apapun resikonya. Seperti seorang suami yang sakit menular, kemudian tanpa pikir panjang si istri memotivasi sekaligus mengobati sakit suaminya. Akibatnya, si istri ikut tertular, dan dengan niat kesabaran (sabar yang diniatkan karena Allah pula), maka tergugurkanlah dosa keduanya, InsyaAllah.

Romantika musibah versi semi ekstrim dicontohkan dengan seorang suami yang menderita sebuah penyakit, sementara sang istri juga menderita penyakit lain. Karena tak peduli akan pengaruh tularan penyakit, keduanya asyik saja saling menemani dan mengobati, mendukung dan menguatkan, tanpa sadar keduanya tertular. Si istri ketularan penyakit suami, sang suami pun ketularan penyakitnya istri. Walau penyakit mencabik-cabik diri mereka, mereka yakin dosa mereka tercabik-cabik pula.

Adapun contoh romantika musibah terekstrim ditunjukkan dengan sang suami dengan amanah dakwah yang sangat menyibukkan, sementara si istri terlanjur sakit fisik. Namun demi suami dan amanah cintnya kepada Allah, si istri sampai hati mengasingkan diri supaya tak disentuh dan tak diobati suami. “Biarlah diri ini disengat sakit, asal suami sukses amanah cintanya”, tutur istri. Mereka lakukan itu karena ada yang lebih visioner daripada penhapusan dosa; yakni ‘keridhoan Allah.’

Kamis, 25 April 2013

Negosiasi dan Nego Sang Nabi

Sekelompok tim sukses yang mengusung calon presiden ‘Schizy’ sedang kebingungan. Pasalnya, mereka terlanjur mencetak poster liflet berfotokan ‘Schizy’ sejumlah 3 juta eksemplar. Usut punya usut, tampak di sudut kanan foto liflet; nama studio foto hasil gugling si pembuatnya. Ketua Tim suksesi bingung bukan kepalang. Ia pun melaporkan kejadian ini kepada komandan suksesi.

“Maaf, komandan. Nama studio foto tanpa sengaja tercetak di liflet. Padahal, penyebarannya tinggal besok. Kita bisa kena pelanggaran hak cipta! Padahal anggaran kita kan mentok! Gimana nih?

Setelah berpikir sejenak, komandan suksesi justru menelepon kantor studio foto, “Halo! Studio Foto MakNyus? Begini pak. Kami dari partai Sompret, hendak mengusung ‘Schizy’ sebagai calonnya. Pak ‘Schizy’ ini bagus lho! Sudah kapabel di bidang sosial, penulisan, bahkan ekonomi. Tak diragukan lagi bahwa ia bisa memimpin negeri ini dengan lebih baik. Nah, untuk mendukung bakal calon yang luar biasa ini, saya membutuhkan studio yang juga luar biasa, seperti studio Maknyus ini! Bagaimana?”

Tanpa tahu fotonya sudah diambil tim sukses, pimpinan Studio foto mau-mau saja merespon positif tawaran sang komandan, “Baiklah saya setuju. Saya akan bayar tiga ribu rupiah untuk setiap poster liflet yang dicantumkan! Bagaimana?”

Komandan suksesi pun sukses memecahkan masalah. Ketua tim yang penasaran lantas bertanya, “Bagaimana, pak? Kita disuruh membayar berapa untuk hak cipta?”

Komandan nyengir berkata, “Siapa yang mau bayar? Kita malah dibayar kalau poster itu nyebar!”

***

Wow,,, asyik bukan? Negosiasi yang begitu mengena, memutarbalikkan keadaan dari prediksi awal merugi menjadi menguntungkan. Beginilah tipe pemimpin top dalam negosiasi. Tapi, jangan lantas kita lupa akan sejarah. Nabi Saw pernah berulang kali menahan gempuran nego para cecunguk Quraisy agar menghentikan jalan dakwahnya. Apa kata Nabi menampar nego para kafirun itu?

"... Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam Bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui [3] yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan...(Fushilat 3-4)”, demikian dibacakan Nabi ketika Quraisy mengimingi harta, kedudukan, kerajaan, kesehatan, apa saja; asal dakwah Nabi dihentikan!

“Hai orang-orang kafir. aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah…hingga akhir ayat QS Kafirun”, demikian ketegasan Nabi tatkala mereka menawari model fifty-fifty, “Kau nyembah Tuhanku, maka aku pasti akan nyembah Tuhanmu!”

Terakhir, Al Kahfi dipaparkan berlatarkan kisah Ashabul Kahfi sekaligus pengelana bernama Dzulqarnain. Sepaket dengan itu, ruh dijelaskan gamblang melalui surat Al-Isra’. Demikian jawaban Nabi akan pertanyaan Yahudi yang coba ikut-ikutan memojokkan Nabi.

Luar biasanya, kekuatan nego Nabi ternyata berasal semuanya dari Quran. Namun anehnya, hati pembesar Quraisy tak tergerak sedikit pun karenanya. Memang ya, hidayah itu milik Allah. Kalau Allah bilang tidak, maka takkan bisa hati mereka dinaungi Islam. "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang-orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki,..." (QS.Al Qashash:56)”  Paling tidak, kita bisa belajar nego dengan menguatkan kedekatan kita kepada AlQuran. Allahummarhamnaa bil Qur’aan...