Sabtu, 20 April 2013

Visi Misi dan Gelut Organisasi Manusia

Ketika seorang bayi lahir, maka ia tak tahu apa itu visi misi. Bayi itu baru tahu apa itu visi misi begitu menginjak usia yang tepat untuk berorganisasi. Akhirnya, bayi itu menapak sebuah organisasi dengan visi dan misi tertentu. Hm... Bukan lagi kita sebut bayi tentunya, melainkan sosok organisatoris. Cikal bakal sematan aktivis.

Kungkungan sematan aktivis ini menggelora terus selama mereka menganggap dirinya aktif berorganisasi. Tatkala masa remaja terlewat, mereka menapaki dunia orang dewasa. Karier mereka beralih dari aktivis kampus menjadi aktivis partai (misalnya), atau mungkin aktivis masyarakat. Sedikit dari mereka yang menukik menjadi apatis tulen. Yang terakhir, tidak dibahas di sini.

Lanjut lagi, masa dewasa itu pun kian mengerut menjadi masa tua. Hasilnya mereka pensiun dari masa organisasi mereka. Dan sayang seribu sayang, demikian mereka memaknai organisasi dengan terlalu sempit, menganggap bahwa organisasi itu identik dengan jamaah bejibun dengan ketua yang menjadi figur luar biasa di tengah-tengah mereka, oh... hingga mereka lupa menyadari makna organisasi dari sudut pandang lain yang bersifat dunia-akhirat.

Kalau boleh berteriak, saya akan katakan, “Whooooiii, kau anggap apa istri dan anak-anakmuuu?”

Begitulah, mereka lupa kalau mereka harus mengorganisasi sebuah organisasi yang hulunya ada di perhelatan akad nikah, dan hilirnya di surga kelak. Lain dari organisasi duniawi, yang hulunya di masa kita terpilih menjadi salah satu punggawanya dan hilirnya di masa pensiun kita dari organisasi itu.

Bahkan, Allah gariskan perihal organisasi ini di kalam-Nya; Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS 66:6)

Wow, terlihat keren jika digubah menjadi sebuah visi bukan? Contoh visi organisasi ini: “Terpelihara diri dan anggota organisasi ini dari api neraka.”... Cieee...

Kalau organisasi yang mereka punggawai memiliki visi misi yang membuat orang-orang terkagum-kagum. Membuat orang lain ingin menjadi bagian dari kesuksesan organisasi itu, hm... akankah kita bisa memunggawai organisasi kita sendiri? Entah kita di pihak suami atau di pihak istri, rasa-rasanya keduanya sama-sama harus berkontribusi penuh.

Menukil ustad Masturi dalam salah satu kajiannya, “Itulah perlunya, kita rapat antar-sesama anggota keluarga. Merumuskan visi keluarga, misi keluarga, dan detail-detail lain dalam urusan keluarga. Termasuk memecahkan permasalahan yang juga diperlukan melalui prosedur rapat.

Akan bersifat elegan bila sang ayah membuka rapat dengan basmalah, lantas si bayi mungil mengangkat tangan menyampaikan usul yang membuat sang ibu gelagapan. “Umi, mau pipis umi!”

Lebih dari itu, bagi yang belum punya visi misi dunia-akhirat keluarga barakah, maka perencanaan lebih dini adalah pilihan terbaik. Toh, jika telah sah nanti, bisa dikonsolidasikan bersama pasangan. Hehe. Atau jika sudah menapaki organisasi keluarga bertahun-tahun lamanya, tak ada salahnya sedari sekarang memikirkan, “Mau dibawa kemana! Hubungan kita, ups salah; ‘keluarga kitaa!”


Salam keluarga barakah…(aamiin)

Jumat, 19 April 2013

Fitnah dan Ujian Umat Islam (3/3)

Kontemplasi yang cukup panjang ditutup dengan 3 pertanyaan. Yang pertama tentang pemecahan kegalauan umat muslim, yang kedua tentang otentitas rujukan kitab terjemahan Indonesia yang diragukan, yang terakhir tentang kondisi terkini Suriah dan Mesir yang sedang bergejolak.

Ustad Herry memulai dengan menjawab pertanyaan terakhir. Namun, sayang, catatan saya tidak mempertunjukkan jawaban itu, karena sependengaran saya, jawaban yang dilontarkan cukup singkat, ditambahi beberapa wawasan seputar jihad yang sangat rugi kalau tidak dicatat.

Pada intinya, jihad di tanah Arab sedang berlangsung. Salah satunya di Palestine, wilayah jajahan (saya tidak menyebut wilayah Israel, krn Israel sejatinya tidak ada) dan wilayah rakyat Palestina yang sesungguhnya, dibatasi oleh tembok yang berkelok-kelok. Ini mengindikasikan bahwa penjajah tahu, dimana letak lokasi kesuburan dan air tanah. Selain itu, jihad juga menawarkan kisah-kisah yang menarik didengar. Salah satunya, kisah tentang mujahid yang sakit migrain ketika berperang (kan gak keren tuh...). Ketika sudah di lapangan, dengan tekad yang kuat, tiba-tiba burung datang dan mematok kepalanya, membuat dirinya sembuh dan kembali bersemangat. Demikianlah; Pertolongan tak akan jauh dari para mujahid, InsyaAllah.

Beberapa slide video diputar. Di Inggris, adzan dibolehkan. Di Rusia, shalat Ied memenuhi jalan-jalan di antara gedung tinggi. Diceritakan bahwa Argentina dan Venezuela, jumlah umat Islam meningkat pesat. Di Belgia, syariat Islam diperjuangkan. Bahkan, di Michigan, muslim sudah menjadi mayoritas (60%). “Kita percaya, kemenangan Islam akan datang dalam waktu dekat”, tutur Kang Herry optimis.

Dari internasional mengerucut ke isu nasional. Pertanyaan mengenai pemecahan galaunya muslim dijawab bersandingan dengan otentitas rujukan muslim. Di Indonesia, ada sebuah pulau di Riau bernama “Pulau Penyengat”, nama lainnya “Bustanul Katibin”. Di pulau itulah, ulama seantero nusantara berkumpul pada suatu waktu tertentu, berfokus untuk membuat kitab, lalu disebar ke penjuru nusantara. Sekarang pulau itu masih ada, tetapi kitab-kitab ulama itu sudah tidak ada. Kemana? Kita akan sulit menemukannya, karena sudah dimusnahkan oleh penjajah.

Masa lalu ulama Indonesia sangatlah benderang. Kita mengenal nama-nama seperti Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Syekh Ahmad Nawawi Al Bantani, Syekh Al Banjari. Ketiga syekh ini pernah menjadi imam masjid Mekkah dan Madinah. Bahkan, tokoh yang lebih kita kenal; Hasyim Asyari dan Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah) merupakan murid dari Syekh Al Bantani.

Kembali fokus ke pertanyaan, pada prinsipnya belajar Islam dari mana saja, termasuk internet, bahkan sms, bisa dan boleh-boleh saja tetapi ini menjadi kaku dan dingin karena tidak adanya ustad. Karena belajar ke ustad akan lebih aplikatif karena didukung dengan adab yang baik ketika belajar. Adapun sumber-sumber yang disebut di awal punya kelebihan lebih terbuka dan mudah ditelusuri.

Imam Ghazali membagi ilmu ke dalam dua macam; ilmu fardhu kifayah dan ilmu fardhu ‘ain. Nah, dalam hal ini, ilmu tentang bahasa Arab merupakan ilmu fardhu ‘ain. Karena sumber ilmu ini mampu membuka wawasan kita terhadap kitab-kitab Arab yang di zaman kini lebih otentik. Kita bisa melihat kerennya ulama kala itu. Jika kini, komen facebook didebat dengan komen berikutnya, maka ulama terdahulu menjawab ketidaksetujuan atas kitab ulama sebelumnya; dengan menulis kitab yang mengkritisi kitab itu. Subhanallah... Bahkan berusaha menunjukkan kebenaran dilakukan dengan kesabaran sehebat itu.  

-semoga 3 seri tulisan ini bermanfaat-

Fitnah dan Ujian Umat Islam (2/3)

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...”, demikian ayat 28 QS Al Fath. 

Sebuah perenungan -masih dari ustad Herry Nurdi (13/4/2013)- tentang apakah ayat ini sudah kita praktekkan atau belum, sebuah tantangan yang bisa kita sadari dan lakukan, lantas kita tularkan kepada muslimun sekitar.  Contoh kecil-nya adalah beberapa wawasan perbedaan fikih yang lazimnya kita toleransi bersama, bukannya kita musuhi bersama. 

Contoh kecil ini di antaranya; perbedaan mahzab yang sama, tetapi dalam prakteknya berbeda. Di Indonesia, ucapan aamiin selepas Fatihah dilantunkan bersamaan antara makmum dan imam, sedangkan di Malaysia, makmum menjawab aamiin setelah imam mengucapkan aamiin. Lain mahzab beda lagi; di Pakistan, mayoritas penganut mahzab Hanafiah, aamiin dipelankan. Coba bayangkan jika ada orang Indonesia di sana lupa diri, mengucap aamiin keras-keras. Itulah pentingnya toleransi; memahami makna ungkapan; di sana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sebagaimana kasus aamiin, bahkan sujud lutut dulu atau sujud tangan dulu, hal itu pun sampai dipermasalahkan. “Asal enggak kepala dulu saja, sujudnya”, seloroh kang Herry kala itu.

Pembahasan menukik ke slide berisikan peta dunia Islam kini-dan-nanti. Ya, slide ini ada di salah satu buku beliau mengenai konspirasi Yahudi dan tetek bengeknya. Singkat kata, akan ada beberapa negara baru di Timur Tengah, yakni Baluchistan (pecahan Pakistan selatan), Negara Islam Sakral (hanya meliputi Mekkah dan Madinah), dan Irak pecah menjadi Irak Sunni dan Irak Syiah. Dalam hal ini, kita tidak saja perlu mengambinghitamkan konspirator akibat peta dunia Islam yang baru ini. Kita juga wajib berkaca diri, kenapa kita mau dipecah-pecah, bahkan seperti sekarang ini?

Dinukil dari muqoddimah kitab Ihya Ulumuddin, ustad Herry memaparkan bahwa kerusakan menimpa kaum muslim ini diidentifikasi oleh kerusakan di level umara (pemimpin). Level ini disebabkan oleh fasadul ‘ulama (kerusakan di level ulama’/tokoh agama). Penyakitnya bernama; cinta dunia dan jabatan (kita kenal di hadits dengan istilah ‘wahn’; cinta dunia+takut mati).

Fasadul ulama jelas terlihat di momen sekarang berupa intsruksi untuk memakai pensil yang sudah diraut dengan doa supaya lulus UN, mandi kembang supaya lulus UN. Sejenis penyakit yang sudah mengakar ke sanubari akidah, dan ini saaangatlah fatal. Na’udzubillah...

Fakta sejarah menuturkan keadaan Antokiyah Syam Baitul Maqdis yang jauh dari kaafahnya Islam. Di sana orang besar berebut kekuasaan. Dimulai dari Perang Salib; 1) semua mahzab berlomba menjadi aliran utama; 2) guru-murid tidak saling menghormati, berdebat hanya untuk sensasi, bukannya mencari kebenaran; 3) pemimpin menyeleweng dari tatacara Islam; 4) syaikh mahzab yang dekat pemimpin, justru hidup mewah, jauh dari permasalahan umat; 5) kelaparan di Mesir, Irak, dan Syams (448H), dikisahkan kala itu bahwa wanita-wanita gemuk negeri Sudan diculik untuk dijadikan persediaan makan (MasyaAllah); 6) terjadi kekacauan sosial; 7) urusan perut dan syahwat menjadi dua hal yang kental dikejar; 8) masyarakat peduli akan makan, pakaian, tempat tinggal, tetapi memperturutkan nafsu dan seks, sementara khatib dan da’i mencari rezeki dengan menjual agama.

Tidak bisa dibayangkan, sungguh Na’udzubillah... Jika dibandingkan dengan keadaan Rasulullah Saw, sungguh sangat jauh dari teladannya. Rasul Saw tidak bisa tidur kalau ada uang di rumahnya. Coba bandingkan dengan kita; kita tidak bisa tidur kalau tidak ada uang di rumah kita. Astaghfirullah...(bersambung)

Fitnah dan Ujian Umat Islam (1/3)

Herry Nurdi sempat mampir ke Kampus STAN (13/4/2013). Walau kala itu malam menghadang, peserta ta’alim terjaga dalam semangat terhunjam. Termasuk sosok nur4syamsudin yang dari jauh seolah asyik nge-game di BB, padahal sedang merangkai hikmah di catatannya. Alhamdulillah, rangkaian hikmah berhasil dikemas dalam tiga seri kajian. Let’s check the note out :D


Fisik lemah itu ibarat jenggot panjang, tapi nafasnya pendek; demikian catatan pertama yang berhasil direkam. Fisik lemah takkan mampu mengimbangi ghirah para relawan Rohingya yang harus berjalan semalam suntuk demi membantu umat muslim di tanah Burma. Sejenak membicarakan muslim di sana, lantas membahas muslim di Suriah. Nah, di Suriah ini, fitnah kental menggelayut. Terbukti dengan diunggahnya video hoax Syekh Buthi. Di video itu, terlihat sosok syekh dibunuh keji, tapi angle kamera seolah tak berkutik, ironis dengan getaran hebat imbas dari ledakan bom. Hal ini meresonansikan adanya orkestra merdu dari fitnah kezaliman Bassar al Assad.

“Tidak beriman di antara kalian sampai kalian mencintai saudara semuslim melebihi cinta pada diri sendiri”, demikian penggalan sebuah hadits yang tercermin mudah, namun sulit diamalkan. Seperti pada kasus sengketa Kesultanan Sulu versus Malaysia antar-dua pihak muslim. Padahal ada hadits yang cukup miris; jika dua orang muslim bertikai maka keduanya masuk neraka. Na’udzubillah.

Setidaknya ada 6 macam sengketa berlabel muslim di ASEAN sebagaimana dikupas Ustad Herry: 1) isu terorisme di Indonesia; 2) etnik Pattani di Thailand; 3) Sulu vs Malaysia; 4) muslim Vietnam; 5) Rohingya di Burma; 6) muslim Timor. Sebagai contoh, etnik muslim Pattani sejatinya pernah mengharap Presiden Soekarno untuk memasukkan wilayah mereka ke Indonesia berdasar latar agama. Namun, sang presiden menolak. “Indonesia punya kesamaan latar sejarah”, katanya. “Yakni, sama-sama dijajah Belanda.” Satu alasan yang mengubur harapan Pattani kala itu, untuk menyatu dengan negeri bermayoritaskan muslim. Di sisi lain, batas wilayah Indonesia sudah diukur melalui deklarasi Juanda (yang namanya dinobatkan menjadi bandara di Surabaya). Sebuah celetukan miring dari Ustad Herry, yang melebihpentingkan deklarasi Juanda ini, ketimbang Sumpah Pemuda atau Proklamasi. “Ini menyangkut batas teritori negara kita”, tuturnya.

Melangkah dari sengketa menuju kisah sahabat; diriwayatkan ada dua sahabat yang bingung tatkala sedang perang, mereka mendapati musuhnya bersyahadat ketika nyawa sudah di ujung pedang. Kedua sahabat berdiskusi alot. “Kita bunuh saja! Dia pasti bersyahadat supaya gak dibunuh!”, tutur seorang sahabat. Singkat kata, dibunuhlah si musuh tadi. Esoknya, Rasulullah Saw mengumpulkan laporan. Mendengar laporan tentang musuh yang dibunuh padahal bersyahadat, Rasulullah pun menginterogasi dua sahabat tadi. “Kenapa kalian bunuh, padahal ia bersyahadat!”, kata Rasul. “Ia bohong ya Nabi, cari alasan saja biar selamat!”, kata sahabat. “Kenapa kalian bunuh, padahal ia bersyahadat!”, Kembali Rasulullah mengulang hingga tiga kali. Tak punya alas an kuat lagi, dua sahabat terdiam. Rasulullah akhirnya memberikan pencerahan, “Kenapa tidak kalian buka dulu dadanya, supaya kalian tahu bahwa ia memang bersyahadat?” Gara-gara hal itu, sahabat tadi bertutur miris, “Andai ibuku tak pernah melahirkanku!”

Kontemplasi dan relasi atas sengketa muslim dengan hadits di atas adalah bahwa kita lebih mudah berantem daripada akur. Prasangka kita lebih cenderung mengedepankan keburukan, ketimbang kebaikan. Dalam kasus sengketa sosial masyarakat dunia muslim, baik non-muslim maupun muslim sendiri, mereka lebih mudah dipertarungkan daripada diperdamaikan. Yahdikumullah! (Bersambung)

Aku Menangis Memandang Wajahmu

Kalimat ini pertama kali kuucap setelah enam bulan lebih hidup bersama istriku. Istri yang tiada duanya. Istri yang tak ada duplikasinya. Istri yang ketika memandang wajahnya, hilir mudik darah ini semerbak. Bahkan sampai tak kusadari tai kucing tergeletak membau di samping kakiku.
 
Lalu, mengapa harus kutangisi istriku?

Bukan dia yang sedang kutangisi. Namun, diri ini yang papa. Yang rendah di hadapan Allah azza wa jalla. Semenjang 6 bulan lalu, hitungan menunjukkan bahwa lambung ini tak lagi mengonsumsi obat kimia semacam amoxilin. Semua berjalan begitu luar biasa. Setiap kali istri sakit, yang ada hanya obat herbal sejenis habatus sauda pembangkit antibodi. Setiap kali diriku sakit, madu dikombinasi pandangan ke arah istri saja, sudah cukup membuat penyakit kejang-kejang dihantam antibodi yang luar biasa kuatnya. Pernah suatu ketika diri ini mual didera meriang di kala siang. Begitu pulang tatkala malam, memandang istri saja, aura positif sudah datang mengusir radang. Lambung serasa dingin, esok paginya, keringat membujur pertanda kesembuhan dari Allah untuk hamba-Nya. 

Entah fenomena apa itu. Apakah istriku atau akunya yang sudah mumpuni dalam menghipnotis diri? Yang jelas, Allah Maha Mengobati dengan segala Kehendak yang berbalutkan kenikmatan dari segala penjuru, yang mana 99% penjuru itu adalah istriku.

Enam bulan lebih sedikit, waktu itu tiba. Sepekan kami tak bersua, diri ini masih terjaga. Sepekan berikutnya, antibodi terasa menurun. Apalagi menjelang pekan ketiga, ketika istriku untuk kedua kalinya harus ber-say goodbye kuantar menjauh dari tubuh yang papa ini...

“Dia harus prajab, kawan”, begitu tolehan schizee *teman imajinasiku

Kepala sakit menghentak. Hunjaman paku kutahan begitu menyentak. Aku berselimutkan kesunyian mengganggu panitia prajab. Kulihat obat tergeletak. Namun, nyali selalu saja ciut. “Hey, bung. Bukankah istrimu ga suka sama obat kimia? Masa’ suaminya doyan?”, begitu usul schizee.

12 jam kutahan sakit kepala dan meriang ini, bermodalkan 2 kapsul minyak habatus sauda pemberian istri. Namun, tak ada hasil. Herbal yang satu itu kurang manjur kalau tubuh sudah kadung didera kuman. Maka, demi menjaga diri dari kesakitan yang terlampau tajam kupanggil dirinya. 

Kala itu, aku memang masih meronta di markas panitia prajab. Aku pun janjian bertemu di masjid prajab. Istriku waktu itu batuk, kubelikan obat herbal. Sementara diriku, walau sudah berkali-kali sakit dan selalu sembuh dengan sendirinya, maka dikarenakan lemahnya diri ini, angkuhnya jiwa ini, maka kupandang lekat-lekat dirinya di masjid. Kubiarkan mata ini mengucurkan air mata. “Ssstttt...” Tuturnya. “Ndak boleh nangiiis!”, Masih dengan gaya manja yang ia bawa. Aku tersenyum tenteram. Kujawab, “Maaf, thayank. Aku akhirnya minum panadol. Maafkan! Hheu...”

Ia balas menorehkan senyum sembari menjawab, “Gak papa kok thayank. Yang penting kan mas sembuuh.” Aku paksa ia seka lelehan di pipiku. Kubiarkan orang-orang memandang kami berdua yang seolah pacaran. Walaupun memang iya. Kami memang pacaran, setelah sah dalam pernikahan.

Kini, tak ada ragu bahwa tetap kurasakan romantisme ini tak berkurang sedikitpun. Bahkan, 2 pekan menjauh darinya, makin membikin kerinduan bagiku untuk bermurojaah bersama, membagi hikmah dari kajian yang masing-masing kami ikuti, bahkan kitab yang kami baca bersama. “Uhibbuki Fillah, yaa zaujati!”                              

 -ditulis saat diri ini didera sakit meriang-merindukan kasih sayang -1/4/2013-